Mengutip dari CNNIndonesia.com Melansir History of Vaccines, sel janin mulai digunakan untuk membuat vaksin sejak tahun 1960-an. Kala itu, ilmuwan mengumpulkan sel janin dari para wanita yang hendak menggugurkan kandungannya akibat wabah rubella. Penggunaan sel janin untuk mengembangkan vaksin masih digunakan untuk membuat beberapa vaksin lain seperti MMR (campak, gondok, dan rubella), hepatitis A, Varicella, zoster, oral Adenovirus Tipe 4 dan Tipe 7, dan rabies. Menurut Dr. James Lawler, seorang ahli penyakit menular di Nebraska Medicine sel janin ini juga digunakan oleh Pfizer / BioNTech dan Moderna. Sel ini diambil dari jaringan janin untuk menguji vaksin mereka. Sementara Johnson & Johnson menggunakan sel janin untuk pengembangan, konfirmasi dan produksi.
Pfizer menggunakan garis sel janin untuk menguji kemanjuran vaksin. Garis sel adalah salinan sel yang dikloning dari sumber yang sama yang telah diadaptasi untuk tumbuh terus menerus di laboratorium. Garis sel merupakan kunci penelitian medis. Garis sel turunan janin manusia tidak digunakan untuk memproduksi vaksin penelitian Pfizer yang diduga mengandung sel janin. Mereka menggunakan komponen sintetik dan diproduksi secara enzimatik. Berdasarkan penjelasan di atas, klaim mengenai hubungan ritual iluminati dengan kandungan sel janin dalam vaksin adalah salah dan termasuk dalam konten yang menyesatkan.
Sumber: